PALPASI DAN PERKUSI TULANG BELAKANG

Dengan palpasi dapat kita menentuKan ketidakrataan pada garis tuiang belakang yang tersusun oleh sederetan prosesus spinosus. Untuk melakukan pemeriksaan ini si pemeriksa meletakkan telapak jari telunjuknya pada prosesus spinosus lalu sambil menekan,iari telunjuk itu digeserkan ke bawah. Perasa seperti meraba bagian2 tasbih dapat dialami oleh telapak jari telunjuk itu. Prosesus spinosus akan terasa seperti penonjolan yang .bulat dan cekungan2 diantara penonjolan2 besarnya kira2 sama. Apabila ada gibus runcing, walaupun bagaimana kecilnya, jari yang melakukan palpasi akan merasakan bahwa penonjolan itu tidak bulat melainkan runcing. Di samping itu cekungan yang mendampingi penonjolan runcing itu tidak sebesar dan securam cekungan lain2nya. Palpasi dipergunakan juga untuk menentukan spasme otot2 paravertebralis.

Spasme otot2 trapezius, skalenus dan stemokleidomastoideus dapat dijumpai pada tortikolis akibat berbagai etiologi. Nyeri pada suatu tempat di tulang berakang selalu disertai oleh spasme otot paravertebralis setempat. oleh karena itu penting sekali untuk meraba kedua daerah samping tularrg belakang dengan seluruh telapak tangan. Kepekaan perabaan itu akan menjadi lebih ta.iam apabila kita melakukannya tanpa melihat atau sambil menutup mata. Fraktur kompresi, fraktur lamina dan lain2 rnacam fraktur, “whiplash lesion” dan hernia nukleus pulposus seringkali dapat ditentukan lokalisasinya dengan jalan palpasi, oleh karena adanya spasme otot setempat.

Selain daripada spasme otot seternpat, nyeri tekan-pun harus diselidiki. Tidak saja nyeri, akan tetapi perasa “enak” pada penekanan harus diselidiki juga. Pada “sakit leher”, seringkali bukannya “nyeri” yang mengganggu pasien, akan tetapi perasa pegal dan kaku. Demikian juga halnya dengan apa yang dinyatakan oleh banyak pasien dengan “sakit pinggang”. Penekanan pada otot2 paravertebralis dan tendon2 antara bagian2 tulang belakang memberikan perasa “enak” atau “relieving” pada kebanyakan penderita dengan “sakit leher” dan “sakit pinggang” karena ketegangan saraf (“nervous tensiorr”), atau dengan ketegangan otot akibat imobilitis tulang belakang (spondilitis ankilopoetika). Tempat yang benar2 nyeri tekan adalah pada tempat fraktur, tempat peradangan, tempat hernia nukleus pulposus dan fibrositis.

Peradangan pada sendi sakro-iliaka menunjukkan nyeri tekan pada cekungan Venus. Cara yang praktis untuk menyelidiki tempat yang nyeri tekan adalah dengan mempergunakan “test menunjuk”. Yang dimaksud dengan test tersebut ialah pemeriksa meminta pasien untuk menunjukkan dengan jarinya sendiri tempat yang dirasakan nyeri. Penderita2 yang mempunyai gangguan pada sendi sakroiliaka dengan tepat bisa menunjuk pada cekungan Venus itu. Demikian juga halnya dengan penderita2 yang menderita hernia nukleus pulposus dan peradangan atau gangguan pada sendi lumbosakralis. Lain halnya dengan penderita2 yang mempunyai keluhan nyeri padatulang belakang “tanpa kelainan organik”.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *